Paranoia

April 13, 2008 at 5:37 am 5 comments

Masa-masa TA 2 ini kadang bikin aq ngerasa tertekan banget, trus akhirnya males ktemu orang. Misalnya Sabtu kemaren tgl 12 April 2008, seharian cuma mengunci diri di kamar, takut ktemu orang. Keluar cuma kLo mau ke kamar mandi aja, itu pun liat-liat dulu ada orang atau gak. Hari itu aq beranggapan kLo semua orang cuma bikin aq tambah stress, and cuma bikin aq tambah tertekan. Selama mengunci diri di kamar, iseng-iseng buk google, dapet deh artikel ini. Kayanya yang aq alamin adalah simple paranoia yang hampir setiap orang pernah mengalaminya. Sebabnya juga bisa macem-macem. Jadi, baca aja terjemahanq ini :  ( sumber : http://members.aol.com/elrophe/paranoia.html )

PARANOIA

Oleh Dr. Sidney Langston

-Terjemahan Bebas : Lia-

Hampir setiap orang pernah mengalami paranoia pada suatu waktu dalam hidupnya. Paranoia adalah suatu persepsi bahwa orang lain membicarakan tentang dirimu dan memata-matai dirimu, bahwa orang lain tidak dapat dipercaya. Orang yang mengalami paranoia merasa tidak memiliki penolong dan merasa terjebak. Mereka cenderung sensitive, sukar memaafkan, dan mudah tersinggung. Mereka merasa menjadi korban dari perlakuan kritis dan kemarahan orang lain. Pada waktu yang sama, mereka sangat sadar diri dan kritis terhadap dirinya. Dalam usaha melawan ketakutannya, mereka memusuhi dan kasar terhadap orang tertentu.

Paranoia dipercaya disebabkan oleh kegagalan pemakaian kapasitas manusia untuk menentukan makna, mencari hubungan dan member tujuan pada perilaku orang lain. Hal ini merupakan ketidakwajaran akan kebutuhan untuk menghakimi orang lain dan kejadian yang terjadi pada keinginan dan perhatian yang besar. Berdasarkan salah satu teori, paranoia dapat berasal dari kekecewaan yang kuat pada orang tua semasa kecil atau dari orang tua yang secara ekstrim keras dan menghakimi.

Simple paranoia dapat menyebabkan penderitaan emosi yang ekstrim, hal ini biasanya tidak menyebabkan gangguan mental jangka panjang yang membutuhkan terapi psikologi.Pada simple paranoia, halusinasi, khayalan, dan perubahan kepribadian drastic tidak terjadi. Kecerdasan tetap utuh dan performansi kerja cukup. Dugaan dan ketidak percayaan biasanya terbatas pada area tertentu sehingga tidak berpengaruh serius pada kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang ketakutan dirinya akan diracuni orang lain, selalu ingin menyiapkan makanannya sendiri, tetapi fungsi kerja lainnya tetap normal.

Paranoaia memiliki berbagai macam bentuk. Paranoia sering melibatkan perasaan tersiksa dan kepentingan diri yang berlebihan. Conjugal paranoia adalah kecemburuan terhadap suami/istri yang mengakibatkan sifat possesif dan keyakinan bahwa pasangannya memiliki WIL/PIL. Kepercayaan bahwa dirinya memiliki penyakit serius sedangkan menurut dokter tidak dikenal sebagai hypochondriacal paranoia.

Tipe lain dari paranoia terjadi pada orang yang lebih tua yang hidup sendiri dimana pendengaran dan penglihatannya sudah tidak bekerja baik. Hilangnya kemampuan indra tersebut mengakibatkan timbulnya rasa curiga berlebihan, pencurian, dan lain sebagainya yang mengusik mereka, walaupun kenyataannya hal itu tidak terjadi.

Culture shock merupakan salah satu bentuk paranoia yang terjadi karena perubahan lingkungan mendadak seperti meninggalkan rumah keluarga atau mengikuti kewajiban militer. Pada situasi baru dan aneh, orang yang mudah diserang menjadi curiga terhadap perbedaan gaya hidup, kebudayaan, sikap dan perilaku. Pada intinya, orang tersebut mengalami kehilangan tempat bergantung dan identifikasi karena shock.

Walaupun seseorang yang menderita paranoia mempu memecahkan ketakutannya, mereka akan merasa kesepian, kalah, dan ditolak. Terapi dapat sangat bermanfaat pada proses penyembuhan,walaupun perasaan paranoia tersebut menimbulkan rasa enggan mengikuti terapi dan mengakhiri proses terapi.

Tujuan utama dari terapi untuk individu yang mengalami paranoia adalah membantu mereka untuk mengambil tanggung jawab atas perilaku mereka. Hal ini penting karena mereka menjadi sadar akan kesalahan, perasaan malu, agresif, dan perilaku curiga terhadap orang lain. Mereka perlu mengubah mekanisme pertahanan terhadap perkiraan mereka menjadi mekanisme mengatasi yang akan membiarkan diri mereka bertindak tanpa merasa dihakimi. Selama proses penyembuhan, mereka mungkin mengalami depresi sebagai penolakan mekanisme pertahanan merekan dan menyadari bahwa mereka telah menyakiti dirinya dan orang lain.

Untuk memulihkan diri, mereka perlu :

·         Mengurangi sensitivitas terhadap kritik

·         Meningkatkan kemampuan social dan tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan orang lain mengkritik dan menghindari mereka

·         Belajar untuk rileks

·         Belajar untuk mengatasi situasi sulit yang menimbulkan kegelisahan daripada menghindarinya

·         Belajar untuk mempercayai diri sendiri dan orang lain

·         Belajar memberikan respon yang sesuai terhadap dirinya dan orang lain. Menjadi santun dan jujur

·         Belajar memaafkan dan menerima diri mereka

Orang tertentu dapat menolong mereka dengan memberikan dukungan emosional yang hangat. Individu yang paranoia membutuhkan orang yang dapat mereka cintai dan mereka percayai. Atmosfer ini akan membimbing mereka menuju kesembuhan.

Analisis :

Kalo yang q alamin, mungkin disebabkan oleh kepribadianq yang melankolis pleghmatis. Akibatnya, q terlalu sensitif sama tindakan orang lain. Selain itu mungkin juga disebabkan karena perubahan lingkungan, jauh dari orang tua dan keluarga karena harus kos di Bandung, ternyata sedikit berpengaruh pada diriku. Kadang-kadang ngerasa kesepian, palagi kLo lagi banyak tugas, TA yang no progress, dan kerasa lagi butuh dukungan, bawaannya pengen nangis aja. Trus kebayang deh, coba kLo di Semarang aja, lebih enak, dapet perhatian dari keluarga, disemangatin. Cuma biasanya kejadian ini cuma terjadi beberapa kali dalam sebulan, terutama kLo lagi mau dapet M, mgkn karena hormon jadi super duper sensitif, semua kelihatan ribet dan gak tampak titik terang. Besoknya biasanya udah normal lagi.

Moga2 artikelnya bermanfaat🙂

Entry filed under: Health. Tags: .

Ayam Goreng Tepung Teman….yang….********

5 Comments Add your own

  • 1. mango  |  April 18, 2008 at 7:14 am

    wah, gw baru baca potingannya lia yang ini nih! dan ternyata gw banget. emang sih sekarang udah jauh lebih baik dari gw yang dulu, tapi tetep masih ada ‘bekas2’ yang gw anggap menganggu.

    mungkin gak sampe taraf paranoia ekstrim, tapi bagi gw selama ini ni ‘penyakit’ sangat mengganggu.

    yah, moga aja bisa lebih baik nantinya.

    Reply
  • 2. loenapeace  |  April 19, 2008 at 5:18 am

    yup2, amien. semoga qta bisa lebih baik nantinya🙂

    Reply
  • 3. guess  |  September 6, 2009 at 7:31 pm

    aku uda ngalamin semua yang di tulis di atas itu,sampai sekarang juga masi belom isa ilangin penyakit “aneh” itu dari pikiran aku,walopun uda berkurang sedikit,tapi aku selalu merasa bersalah pada diri sendiri ama orang lain,dan skrg sama sekali ga ada yang bisa dukung aku dalam hal emosional, knp bisa ada penyakit itu?gara2 make obat2an bisa?tapi aku uda 3 bulan lebih ga pake lagi,, skrg aku merasa jadi orang laen,bkn kayak aku yang dulu lagi,, masa,aku masuk rumah sendiri yang di kunci aja masuk bawa piso ? kayak ada yang bakal ngebunuh aku gitu.. tolong donk kasi tau gimana terapi nya,aku uda tersiksa banget ,seperti nya aku merasa orang yang paling bersalah di dunia ini,dan orang yang aku cintai juga gak AKAN bisa mendukung aku lg krn kesalahan aku sendiri. Sekarang aku uda bisa mengontrol ketakutan aku,tapi knp masih aja aku merasa bersalah kayak gini?khayalan,halusinasi,dan semacam nya sudah pernah aku lewatin,kalau di pikir logika,itu semua krn pikiran aku sendiri yang kacau,aku merasa kalau aku uda ditolak sama dunia ini,jadi aku menyendiri terus di kamar ,semua teman di fs,fb,ym, yang gak di kenal aku hapus semua,knp bisa gitu? ada gak obatnya?? tolong banget info nya,aku bner2 uda tersiksa banget idup kayak gini,terus sekarang sering kepikiran untuk bunuh diri,knp bisa ampe gitu?padahal dulu aku sebelumnya ga pernah berpikiran pendek seperti itu..

    Reply
    • 4. loenapeace  |  December 3, 2009 at 4:31 am

      Hmm, untuk mbak/mas guess, mungkin ga ada salahnya mencoba konsultasi ke psikolog. Psikolog nantinya akan memberikan terapi yg sesuai. Misalnya seperti adik saya yg kesulitan bergaul di sekolah. Psikolog mengajak bicara adik saya dalam suasana yang santai. Dari pembicaraan itu, psikolog akan mendiagnosa dan memberikan tips yang harus dijalankan sebelum konsultasi di bulan berikutnya. Adik saya diharuskan menyapa 1 teman barunya di kelas. Besoknya menyapa 1 teman baru dan teman yang kemarin sudah dikenal. Begitu seterusnya. Sekarang adik saya sudah punya banyak teman dan tidak mogok sekolah lagi.

      Reply
  • 5. Someone  |  November 22, 2010 at 7:05 am

    Wah thanks a lot buat postingannya ya.. Berguna banget nih..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


My Calendar

April 2008
M T W T F S S
« Aug   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

My Tweet


%d bloggers like this: